Gimana nih pemirsa? Lanjut?
Terakhir sampe rekomendasi ya? Oke, jadi setelah gw dapet rekomendasi, kami para peserta langsung dihadapkan dengan serangkaian tes dengan sistem gugur. Proses seleksi ini yang cukup menguras energi, karena ga hanya otak yang diuji, namun kesabaran juga. Kenapa? Karena proses seleksinya memakan waktu yang cukup panjang, dari awal seleksi asesmen kompetensi sampai dengan presentasi essay dan visi misi itu memakan waktu kurang lebih 6 bulan, dari seleksi terkahir sampai dengan pengumuman, 1 bulan.
Well, untungnya ditengah-tengah kami sudah diperbolehkan mencari kampus tujuan sesuai dengan yang dipersyaratkan, yaitu kampus dengan ranking 100 besar dunia dan jurusan yang ada korelasinya dengan perbankan. Jadilah gw memulai pencarian, gw berencana untuk ambil jurusan MBA (Master of Business Administration), dari Boston University, Boston College, Uni of Manchester, Uni of Birmingham, Uni of Edinburgh, Strathclyde University, Durham University, Lancaster University, pokoknya konsepnya gini, kalo di US, gw cuma mau di Boston, titik! Kalo di UK, mana aja boleeeeee, well, Manchester prioritas sih sebenernya, tau lah kenapa, ga perlu gw jelasin kan, retoris banget. Hahaha.
Daftar ke universitas itu gampang guys, persiapannya yang ribet karena banyak dokumen yang harus dilengkapi. Gw akan bikin tulisan tersendiri tentang gimana caranya daftar ke Universitas dan dokumen apa aja yang dibutuhkan, biar lebih komprehensif, ujian kelessss, komprehensif. Prinsip gw pas milih kampus sama aja kaya pas gw milih BNI jd tempat kerja gw, siapa cepat dia dapat. Sedikit flashback, waktu gw apply ODP BNI, gw juga lagi seleksi di beberapa perusahaan lain model-model MT Astra, BDP BCA, MT Wardah, dll. Kenapa pada akhirnya gw pilih BNI karena BNI yang duluan nawarin gw untuk signing, sementara yang lain, belum. Tepat disaat gw udah signing sm BNI, siangnya Astra baru nawarin interview user, hehehe, minggu depannya BCA, dan setelahnya baru Wardah.
Nah, pas gw daftar ke beberapa kampus di atas, Uni of Birmingham paling duluan merespon dan mengatur jadwal interview, FYI, untuk jurusan lain, biasanya kampus-kampus ga mempersyaratkan interview, tapi khusus MBA, rata-rata kampus yang punya jurusan ini selalu mempersyaratkan interview di entry requirement-nya. Karena mereka paling duluan merespon, maka mereka juga yang paling duluan ngasih Unconditional Acceptance, bulan juli waktu itu. Agustus baru bisa apply visa, dan granted di minggu ketiga Agustus.
Dari minggu ketiga Agustus sampai keberangkatan ya kegiatannya diisi sama persiapan keberangkatan aja selain tetep dikasih kerjaan business as usual, hemeeeehhh. Oiya, rencananya gw berangkat waktu itu tanggal 10 September, jadi masih ada 3 minggu lah buat persiapan keberangkatan.
Well, masa-masa menjelang keberangkatan inilah yang bikin perasaan gw campur aduk, seneng iya, sedih pasti. Seneng, karena impian gw akhirnya tercapai, bisa sekolah di luar negeri, tanpa merepotkan orang tua secara finansial. Sedih, karena bakalan jauh dari orang tua dan adik-adik, yang biasanya kalo mau ketemu tinggal cus ke bandung, pas kuliah nanti terpisahnya ribuan kilometer plus 7 jam perbedaan waktu (6 jam kalo pas BST/British Summer Time). Jadi memang sisa waktu yang sempit harus dimaksimalkan buat keluarga.
Dengan segala perasaan yang campur aduk itu, berangkatlah gw tanggal 10 September 2016, menyongsong masa depan ke University of Birmingham mengejar gelar MBA bidang Global Banking and Finance, Program 24 bulan.
To be continue...
Cheers,
Wira.
Tuesday, December 13, 2016
Wednesday, November 30, 2016
Student Life (Part 3)
Lanjut!
Anyway, gw selalu merasa bersalah karena tiap posting disini pas akhir bulan mulu, ketauan banget ga pernah nyempetin nulisnya, pas mepet-mepet baru deh kelabakan, hahaha. apologize for that.
Terakhir sampe LPDP ya?
Jadi setelah LPDP kandas, kalo ibarat mobil tuh gw agak dingin mesinnya, butuh waktu kalo mau ngegeber lagi, ini in terms of kerjaan ya, karena hawa-hawa pas LPDP itu kan penuh optimisme mau sekolah lagi, and when it comes to the office things, agak-agak kurang semangat. But life goes on, right? balik lagi lah ke kerjaan berkutat dengan NSICCS, Kartu Debit dan perintilan lainnya.
Emang dasar rejeki ga kemana ya, bulan November, gw dipanggil bos gw ke mejanya sambil dia yang kegirangan, iya, dia, bukan gw. Ngasih selamat karena nama gw ada di talent pooling-nya BNI sebagai salah satu kandidat penerima beasiswa, HAHAHA! Kenapa kandidat? karena tetap harus melalui tahapan seleksi. FYI, untuk yang ini, gw ga daftar, karena mekanismenya adalah talent pooling yang kualifikasinya sama persis dengan program beasiswa yang gw daftar sebelumnya, Divisi Human Capital yang ngirim shortlist nama-nama talent yang BISA diikutsertakan dalam seleksi. Kenapa Bisa? karena untuk ikut seleksi, kita harus mendapat "restu" alias rekomendasi dari GM Divisi tempat kita bernaung. Buat gw mungkin ga terlalu berpengaruh, karena shortlisted talent dari Divisi gw ya cuma gw, jadi GM ga punya pilihan lain, ahayyy. Kondisi ini bisa berbeda buat Divisi yang shortlisted talent-nya ada lebih dari 1 per jenjang jabatan, karena kebijakannya adalah rekomendasinya hanya 1 staff per jenjab. Kenapa gw bisa masuk talent, ya simpelnya karena gw memenuhi kriteria mereka, dan yang membedakan pastinya masa kerja, kan udah lebih dari 3 tahun, hehehe.
To be continue...
Cheers,
Wira
Anyway, gw selalu merasa bersalah karena tiap posting disini pas akhir bulan mulu, ketauan banget ga pernah nyempetin nulisnya, pas mepet-mepet baru deh kelabakan, hahaha. apologize for that.
Terakhir sampe LPDP ya?
Jadi setelah LPDP kandas, kalo ibarat mobil tuh gw agak dingin mesinnya, butuh waktu kalo mau ngegeber lagi, ini in terms of kerjaan ya, karena hawa-hawa pas LPDP itu kan penuh optimisme mau sekolah lagi, and when it comes to the office things, agak-agak kurang semangat. But life goes on, right? balik lagi lah ke kerjaan berkutat dengan NSICCS, Kartu Debit dan perintilan lainnya.
Emang dasar rejeki ga kemana ya, bulan November, gw dipanggil bos gw ke mejanya sambil dia yang kegirangan, iya, dia, bukan gw. Ngasih selamat karena nama gw ada di talent pooling-nya BNI sebagai salah satu kandidat penerima beasiswa, HAHAHA! Kenapa kandidat? karena tetap harus melalui tahapan seleksi. FYI, untuk yang ini, gw ga daftar, karena mekanismenya adalah talent pooling yang kualifikasinya sama persis dengan program beasiswa yang gw daftar sebelumnya, Divisi Human Capital yang ngirim shortlist nama-nama talent yang BISA diikutsertakan dalam seleksi. Kenapa Bisa? karena untuk ikut seleksi, kita harus mendapat "restu" alias rekomendasi dari GM Divisi tempat kita bernaung. Buat gw mungkin ga terlalu berpengaruh, karena shortlisted talent dari Divisi gw ya cuma gw, jadi GM ga punya pilihan lain, ahayyy. Kondisi ini bisa berbeda buat Divisi yang shortlisted talent-nya ada lebih dari 1 per jenjang jabatan, karena kebijakannya adalah rekomendasinya hanya 1 staff per jenjab. Kenapa gw bisa masuk talent, ya simpelnya karena gw memenuhi kriteria mereka, dan yang membedakan pastinya masa kerja, kan udah lebih dari 3 tahun, hehehe.
To be continue...
Cheers,
Wira
Monday, October 31, 2016
Student Life (Part 2)
Hi All,
Sesuai yang gw janjikan, kali ini gw akan cerita lebih banyak tentang fase baru kehidupan gw di negeri orang. Tapi tunggu dulu, semua itu kan ada prosesnya ya? hahah, jadi gw bakal mulai dari jauh sebelum sekarang. Here we go.
Kalo flashback ke tahun 2010, kalian bisa tracing postingan gw di blog ini tentang mimpi-mimpi gw baik jangka pendek maupun jangka panjang, well, kalo kalian terlalu malas buat bongkar-bongkar blog gw, kalian bisa cek postingan gw tempo hari di sini.
Postingan itu berawal dari tugas salah satu mata kuliah di konsentrasi Communication Training and Consulting (CTC), iya, itu bidang konsentrasi yang gw ambil dulu waktu kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) jurusan Manajemen Komunikasi (Mankom). Konsentrasi ini dianggap yang paling killer di Mankom, dari sisi dosen maupun tugas, karenanya berdampak pula kepada jumlah mahasiswa yang mengambil konsentrasi ini. Disaat konsetrasi lain (Manajemen Media dan Marketing Komunikasi) masing-masing bisa berisikan puluhan orang dalam satu kelas, kami, CTC hanya berjumlah tidak lebih dari jumlah jari tangan dan jari kaki, ga lebih dari 20 orang.
Waktu itu, kami diminta untuk bermimpi tentang perencanaan hidup kami kedepannya. Nah, buat kalian yang masih bingung, apa bedanya rencana sama perencanaan, kalo rencana itu adanya di kepala, masih di dalam pikiran, tapi kalo perencanaan itu bentukannya udah tertulis, terdokumentasikan, gitu. Jadi yang dosen kami minta pada saat itu adalah menuliskan dan menceritakan. Kurang lebih hasilnya seperti isi blog gw tadi.
Ada beberapa dari mimpi gw yang bisa gw highlight, seperti:
Sesuai yang gw janjikan, kali ini gw akan cerita lebih banyak tentang fase baru kehidupan gw di negeri orang. Tapi tunggu dulu, semua itu kan ada prosesnya ya? hahah, jadi gw bakal mulai dari jauh sebelum sekarang. Here we go.
Kalo flashback ke tahun 2010, kalian bisa tracing postingan gw di blog ini tentang mimpi-mimpi gw baik jangka pendek maupun jangka panjang, well, kalo kalian terlalu malas buat bongkar-bongkar blog gw, kalian bisa cek postingan gw tempo hari di sini.
Postingan itu berawal dari tugas salah satu mata kuliah di konsentrasi Communication Training and Consulting (CTC), iya, itu bidang konsentrasi yang gw ambil dulu waktu kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) jurusan Manajemen Komunikasi (Mankom). Konsentrasi ini dianggap yang paling killer di Mankom, dari sisi dosen maupun tugas, karenanya berdampak pula kepada jumlah mahasiswa yang mengambil konsentrasi ini. Disaat konsetrasi lain (Manajemen Media dan Marketing Komunikasi) masing-masing bisa berisikan puluhan orang dalam satu kelas, kami, CTC hanya berjumlah tidak lebih dari jumlah jari tangan dan jari kaki, ga lebih dari 20 orang.
Waktu itu, kami diminta untuk bermimpi tentang perencanaan hidup kami kedepannya. Nah, buat kalian yang masih bingung, apa bedanya rencana sama perencanaan, kalo rencana itu adanya di kepala, masih di dalam pikiran, tapi kalo perencanaan itu bentukannya udah tertulis, terdokumentasikan, gitu. Jadi yang dosen kami minta pada saat itu adalah menuliskan dan menceritakan. Kurang lebih hasilnya seperti isi blog gw tadi.
Ada beberapa dari mimpi gw yang bisa gw highlight, seperti:
- Masuk perusahaan multinasional lewat jalur akselerasi
- Menikah
- Membiayai adik gw sekolah
- Umroh bareng keluarga
- S2 Bisnis di luar negeri
- Jalan-jalan ke luar negeri
- Punya rumah di Bandung
- Di top level management sebelum umur 40
Nah dari beberapa list di atas, namanya juga mimpi, ada yang tercapai ada yang belum. Kerja lewat jalur akselerasi, udah, ODP BNI. Menikah, belum. Biayain adik gw sekolah, bokap gw masih mampu ternyata. Umroh bareng keluarga, belum. Punya rumah di Bandung, belum, jadinya beli rumah di jakarta karena seiring dengan berjalannya waktu, ternyata lebih butuh rumah di jakarta, hahaha. Daaaaaan, GONG nya adalah, S2 Bisnis di luar negeri. YA! INI DIA GONG NYA!
Gw dari lama emang pengen sekolah di luar negeri, awal mulanya di akhir tahun 2014 kemarin, ada talent scouting dari salah satu business school di US yang visit akun Linkedin gw, dan kirim message apakah dia bisa kontak gw untuk dijadiin kandidat prospective student. Gw ikutin lah prosesnya, mereka minta gw daftar, lalu gw daftar, bikin personal statement, minta surat rekomendasi dari 2 orang bos gw, dan di wawancara oleh pihak kampusnya. Di bulan januari 2015, gw udah mengantongi conditional acceptance dari pihak kampus, untuk membuatnya jadi unconditional, gw harus tes bahasa inggris dan tes GMAT.
Di awal tahun 2015, kantor gw, BNI, setelah sekian lama akhirnya membuka lagi program beasiswa andalannya, beasiswa S2 Luar Negeri. Dari berbagai persyaratan, yang menghalangi hanya masa kerja minimal 3 tahun pegawai tetap, sementara gw, pengangkatan setelah pendidikan kan tahun 2012 bulan Mei, pada Januari 2015 gw masih 3 tahun kurang 4 bulan. Kalo kata orang jawa timur, bondo nekat, gw daftar program itu, dan hasilnya ketebak, seleksi administrasi pun tak lolos. Sedih. Cuma kurang 4 bulan. Pak kasian Pak.
Nah Paralel, gw nyoba apply beasiswa LPDP, gw tau Business School itu ga ada yang murah, bahkan kalo kalian google trailing, MBA itu biayanya yang paling mahal di antara postgrad yang lain. Karena mahal, makanya gw sadar diri dengan tidak akan memberatkan orang tua gw untuk membiayai. Along the way, gw berhasil memenuhi persyaratan skor bahasa inggris IELTS minimal 6.5, sementara untuk GMAT, man, gw udah ikut preparation for GMAT aja, susahnya tetep minta ampun, bener-bener deh.
LPDP, gw lolos tahap seleksi administrasi, lalu dipanggil untuk ikutan wawancara dan LGD. Singkat cerita, gw kandas di tahapan itu, untuk sementara, nampaknya harapan gw untuk sekolah lagi pupus, ya gimana? orang ga ada yang bayarin. Sedih. Lagi.
To be Continue...
Best,
Wira
Friday, September 30, 2016
Student Life (part 1)
Hello there,
I supposed to write you stories of 2 weeks experiencing living my life far away from home as a student and also tell you guys how was my first week.
But unfortunately, there was so much thought ran through my mind and so much things I should settled just for making my life easier here.
Promised, on the next part, I'll tell you what happened in my first 2 week.
Well, that's about it, excuse me.
Best,
Wira
Wira
Wednesday, August 31, 2016
Being Nice.
It's nice to be important, but it's more important to be nice.
Apapun yang telah kita lakukan, jangan sampai keangkuhan, harga diri mempengaruhi perlakuan kita terhadap orang lain. Seberapapun pentingnya kita dimata orang lain, tetap kita sebagai mahkluk sosial membutuhkan orang lain untuk bersosialisasi.
Karenanya, menjadi orang penting adalah satu hal, sementara berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain adalah hal lain.
So, be nice and you'll find your life much easier.
Best,
Wira
Apapun yang telah kita lakukan, jangan sampai keangkuhan, harga diri mempengaruhi perlakuan kita terhadap orang lain. Seberapapun pentingnya kita dimata orang lain, tetap kita sebagai mahkluk sosial membutuhkan orang lain untuk bersosialisasi.
Karenanya, menjadi orang penting adalah satu hal, sementara berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain adalah hal lain.
So, be nice and you'll find your life much easier.
Best,
Wira
Tuesday, July 26, 2016
BNI Global Development Program 2016: Essay Visi Misi (1.000 kata)
A
Journey to be Young on Top
Sebelum mengutarakan visi dan misi pribadi untuk 5-10
tahun mendatang, saya perlu menceritakan terlebih dahulu sekelumit perjalanan
hidup saya hingga akhirnya saya berada pada titik ini. Kembali ke tahun 2004.
Pada waktu itu, saya baru saja lulus dari SMAN 5 Bandung dan sedang menaruh
minat cukup besar pada ilmu komunikasi. Maka, saya pun memutuskan ikut Seleksi
Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas
Padjadjaran (Fikom Unpad) sebagai pilihan program studi saya.
Namun, karena tingkat persaingan di kampus tersebut
sangat ketat, saya gagal. Orangtua saya kemudian mengarahkan saya untuk
berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan (FE Unpar). Meskipun
berat, karena hati ini masih terpaut dengan Fikom Unpad, saya tetap memutuskan
untuk menyandang status mahasiswa ekonomi di kampus swasta tersebut.
Memasuki tahun kedua di FE Unpar, keinginan lama untuk
berkuliah di Fikom Unpad muncul kembali. Saya pun memutuskan ikut SPMB sekali lagi.
Pada kesempatan kedua tersebut, saya datang dengan tekad yang lebih kuat dan
persiapan yang lebih baik. Berkat usaha yang keras dan pertolongan Yang Maha
Kuasa, akhirnya saya lulus seleksi!
Sayangnya, kabar baik tersebut tidak membuat orangtua
saya ikut bergembira. Mereka tidak setuju dengan rencana saya untuk pindah ke
Fikom Unpad, untuk mengulang perkuliahan dari awal. Apalagi saya sudah menyelesaikan
tahun kedua di FE Unpar. Dengan demikian berarti saya telah menyia-nyiakan dua
tahun hidup saya.
Pada saat itu, saya juga sadar betul bahwa saya sedang
mengambil risiko besar. Bila mengulang perkuliahan dari awal, maka saya akan
tertinggal dua tahun dibandingkan dengan rekan seangkatan saya, waktu studi
akan semakin lama, dan pencapaian karir akan terlambat.
Akan tetapi, keputusan saya sudah bulat. Saya pun
berusaha untuk meyakinkan orangtua saya bahwa keputusan pindah ke Fikom Unpad
adalah keputusan terbaik. Saya berjanji kepada mereka bahwa saya akan lulus cumlaude. Beruntung pada akhirnya mereka
memberikan izin. Jadilah saya berkuliah di kampus yang saya idam-idamkan.
Saya berupaya memberikan yang terbaik termasuk dengan
melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan di kampus sebelumnya. Ketika berkuliah
di FE Unpar, saya tidak banyak terlibat di dalam organisasi kemahasiswaan atau
kepanitiaan acara kampus. Padahal aktivitas tersebut penting karena dapat
mengembangkan soft skill; dapat
mengajarkan kita mengenai bagaimana cara menghadapi orang dengan karakter
tertentu, cara mengambil keputusan, dan cara menjadi pemimpin. Oleh sebab itu,
sejak menjadi mahasiswa Fikom Unpad, saya proaktif mencari informasi terkait organisasi
kemahasiswaan dan kepanitiaan acara kampus. Sejak saat itu, kehidupan saya
sebagai mahasiswa tidak pernah terlepas dari organisasi atau kegiatan
kemahasiswaan. Puncaknya adalah ketika saya terpilih menjadi Ketua Himpunan
Mahasiswa Manajemen Komunikasi Fikom Unpad periode 2009-2010 melalui mekanisme
Pemilu Raya Fikom Unpad.
Suatu hari, di tengah kesibukan berorganisasi dan menyusun
skripsi, melintaslah pemikiran mengenai masa depan karir saya di benak saya.
Semua itu saya tuangkan di dalam blog
pribadi saya. Saya masih ingat betul susunannya. Pertama, setelah menyelesaikan studi S1,
saya menargetkan diri untuk segera mendapatkan pekerjaan melalui program-program
akselerasi seperti Management Trainee
(MT), Graduates Development Program (GDP)
atau Officer Development Program (ODP)
yang dimiliki perusahaan-perusahaan ternama. Kenapa
harus program akselerasi? Karena melalui program ini, saya dapat mengejar dua
tahun ketertinggalan saya tadi.
Kedua, setelah beberapa tahun bekerja, saya ingin mengambil
studi magister bidang bisnis di luar negeri. Harapan saya, studi magister di
luar negeri mampu meningkatkan kapabilitas saya dalam menapaki jenjang karir
yang lebih tinggi. Ketiga, saya ingin
mencapai Top Management Level sebelum
umur 40 tahun, yang artinya paling tidak pada tahun 2026 saya sudah harus
berada di sana.
Misi pertama (dan janji saya untuk lulus cumlaude) sudah tercapai. Saat ini, saya
sedang berusaha mencapai misi kedua. Adalah berkah tersendiri ketika tengah
merencanakan studi ke luar negeri, saya diberi kesempatan mengikuti program Global Development Program (GDP): Overseas
Postgraduate Scholarship. Sebab, melalui program ini, saya selangkah lebih
dekat untuk mencapai misi kedua. Harapan saya, setelah misi kedua tercapai,
jalan terjal menuju misi ketiga akan mudah dilewati.
Dalam hal studi, saya berencana untuk mengambil gelar
MBA dengan konsentrasi Strategy &
Leadership. Saya memosisikan diri sebagai calon pemimpin BNI sepuluh tahun
mendatang. Oleh karenanya, saya harus memilih konsentrasi yang dapat menunjang
hal tersebut.
Seorang pemimpin harus visioner dan dapat merencanakan
strategi untuk selalu menjadi nomor satu di pasaran. Saat ini, saya melihat
bahwa teknologi berkembang pesat. Fakta tersebut dapat dilihat dengan mudah: semakin
banyak masyarakat yang melek teknologi. Smartphone
yang sepuluh tahun lalu masih merupakan barang langka, saat ini sudah digenggam
hampir semua masyarakat di perkotaan. Bahkan tidak sedikit yang memiliki dua
unit sekaligus.
Berdasarkan hal tersebut, saya prediksi, kontak fisik
antara nasabah dengan frontliner akan
semakin minim. Begitu pula antara pembeli dengan
penjual. Dengan demikian, digital banking
akan memiliki peran sentral dalam bisnis perbankan. Saya sangat tertarik untuk
membangun bisnis digital banking BNI
ini.
Selain digital banking,
membangun loyalitas nasabah perorangan melalui layanan transaksional perbankan
akan menjadi hal yang tidak kalah penting. Salah satu cara membangun loyalitas
nasabah adalah melalui produk-produk yang memfasilitasi kebutuhan transaksional
nasabah. Jika semua kebutuhan transaksional nasabah telah terpenuhi, loyalitas
nasabah adalah sebuah keniscayaan. Saya percaya, nantinya sumber pendapatan
bisnis perbankan tidak lagi dari Interest
Based Income, namun dari Fee Based
Income. Oleh karenanya, menjadikan BNI sebagai bank transaksional bagi nasabah
menjadi hal penting.
Melihat peluang besar di atas (berikut tantangannya
yang pasti juga besar), saya merasa bahwa sudah saatnya BNI mempersiapkan
generasi pemimpin penerus berkualitas tinggi. Saya sendiri saat ini tengah
mempersiapkan diri untuk menjadi salah satunya. Saya adalah pribadi yang mampu mengerti
arahan dengan cepat. Saya selalu bersemangat
dalam mempelajari hal baru, dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Saya mampu menetapkan skala prioritas dan bekerja
melampaui waktu normal. Saya selalu tenang dalam
menghadapi tekanan dan terbiasa bekerja dalam tenggat waktu sempit. Di sisi lain, kepribadian saya yang fleksibel dan
adaptif sangat membantu saya dalam bekerja dan berkoordinasi dengan rekan kerja.
Walaupun begitu, ada hal lain pada diri saya yang
masih perlu dikembangkan, salah satunya adalah kemampuan dalam mengambil
keputusan. Saya cenderung lamban dalam mengambil keputusan karena seringkali
menganalisis berbagai aspek terlebih dahulu. Saya juga membutuhkan waktu agak
lama untuk menyelesaikan pekerjaan karena memiliki standar tinggi. Selain itu,
saya juga sering ragu-ragu untuk menyampaikan pendapat dalam forum atau meyakinkan
rekan kerja tentang pemikiran saya. ***
Monday, June 27, 2016
Do you?
The biggest communication problem is we do not listen to understand, we listen to reply.
Best,
Wira
Subscribe to:
Posts (Atom)