Apa yang ada di otak lo ketika mulut lo penuh dengan makanan tapi masih ga berhenti ngoceh? ini kebiasaan orang bule yang terlihat keren kalo mereka yang melakukan, tapi terlihat menyedihkan kalo kita (orang timur) yang yang melakukan.
Blah!
Kalo yang ada di otak gw ketika ngeliat orang kaya gitu adalah lo ga cukup diajari sopan santun saat makan oleh orang tua lo, atau lo udah diajarin tapi emang pada dasarnya ga tau sopan santun aja. Pathetic.
Hah!
Best,
Wira
Thursday, April 7, 2016
Wednesday, March 30, 2016
Mental Bos!
Orang Indonesia, kalo menurut gw, sebagian besarnya bermental bos, tinggi hati dan merasa harus dilayani, bahkan untuk hal terkecil sekalipun. Ini jelas tergambar dari sesuatu yang bersifat materiil.
Pernah ga kalian perhatiin, untuk sesuatu yang mereka bayar, hampir selalu mereka bertindak seenaknya dan kebalikannya untuk sesuatu yang gratis. Contoh?
Gampang.
Naik bis kota (bayar) vs naik bis city tour (gratis).
Untuk naik bis kota yang bayar, karena merasa bayar, mereka merasa berhak naik dan turun di tempat yang tidak semestinya, mau naik kopaja/metromini, bos-bos ini hampir selalu naik dan turun di sembarang tempat, bukan di halte, tempat peruntukannya. Kenapa? karena mereka merasa sudah membayar, jadi hak mereka untuk dilayani, masa bodo masalah tertib aturan atau tidak, gw udah bayar kok! Bos.
Nah, sekarang coba bandingkan dengan transportasi yang gratis, bis city tour Jakarta yang hanya bisa dinaiki di halte-halte tertentu, mereka berbaris rapih di halte-halte yang sudah ditentukan, naik tertib, turun tertib, di halte-halte yang telah ditentukan pula. Kenapa mereka tertib? Karena untuk mendapatkan fasilitas tersebut, mereka ga bayar, jadi merasa ga punya hak untuk bertindak seenaknya, kembali kepada khitahnya. Proletar.
Apa iya sebegitu susahnya untuk tertib untuk sesuatu yang berbayar? Bos?
Best,
Wira
Pernah ga kalian perhatiin, untuk sesuatu yang mereka bayar, hampir selalu mereka bertindak seenaknya dan kebalikannya untuk sesuatu yang gratis. Contoh?
Gampang.
Naik bis kota (bayar) vs naik bis city tour (gratis).
Untuk naik bis kota yang bayar, karena merasa bayar, mereka merasa berhak naik dan turun di tempat yang tidak semestinya, mau naik kopaja/metromini, bos-bos ini hampir selalu naik dan turun di sembarang tempat, bukan di halte, tempat peruntukannya. Kenapa? karena mereka merasa sudah membayar, jadi hak mereka untuk dilayani, masa bodo masalah tertib aturan atau tidak, gw udah bayar kok! Bos.
Nah, sekarang coba bandingkan dengan transportasi yang gratis, bis city tour Jakarta yang hanya bisa dinaiki di halte-halte tertentu, mereka berbaris rapih di halte-halte yang sudah ditentukan, naik tertib, turun tertib, di halte-halte yang telah ditentukan pula. Kenapa mereka tertib? Karena untuk mendapatkan fasilitas tersebut, mereka ga bayar, jadi merasa ga punya hak untuk bertindak seenaknya, kembali kepada khitahnya. Proletar.
Apa iya sebegitu susahnya untuk tertib untuk sesuatu yang berbayar? Bos?
Best,
Wira
Tuesday, March 8, 2016
Odor.
Familiar sama kata "Odor"?
Maybe not.
But what if I said "Deodorant"?
Betul, itu kata dasarnya. Odor. Bau.
Hahaha.
Buat gw, gw lebih tersinggung kalo orang lain bilang gw bau, daripada gw (unfortunaely not) jelek. Hahahaha. Tau kenapa? Here is the thing, kalo yang berkaitan sama fisik, itu given, ladies and gentlemen. There's nothing we can do about it, well, besides plastic surgery, which is not common for us here in Indonesia compare to Koreans. Ga ada yg bisa kita lakukan, orang udah takdirnya begitu? either it's curse or blessing, all we have to do is accept it anyway.
TAPI, kalo bau badan, kita bisa melakukan segala cara untuk menghilangkannya, dari yang paling mudah, pake deodorant/parfum/body spray whatever, sampai ke yang paling complicated, mengubah pola makan/hidup. Kenapa gw lebih tersinggung kalo dibilang bau, karena there's so much things that we can do to improve the body odor and we choose not to do it, sama aja artinya kaya kita ga bisa ngurus diri sendiri. Well, it's definitely your fault. Blame yourself.
Best,
Wira
Monday, February 29, 2016
Leap Year
Selamat tanggal 29 Februari 2016!!!
Tahun kabisat, dimana setiap 4 tahun sekali, bulan Februari berjumlah 29 hari. Kenapa? Karena pada dasarnya, setiap tahun, bumi kita berrevolusi selama 365 1/4 hari, dan atas konsensus pakar-pakar, dibulatkanlah revolusi bumi terhadap matahari ini menjadi 365 hari. Dengan catatan, disetiap tahun ke empat, 1/4 hari sisa dari revolusi bumi tersebut diakumulasikan menjadi 1 hari tambahan di bulan Februari, jadilah di tahun kelipatan 4, bulan Februari berjumlah 29 hari.
Selamat ulang tahun bagi yang merayakan, at least kalian lebih irit, karena traktirannya 4 tahun sekali, haha.
Best,
Wira
Friday, February 26, 2016
Change.
Kita bisa berusaha sekuat tenaga membantu orang-orang terdekat kita untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi, tetap saja, masalah mau atau tidak maunya adalah keputusan mereka. Yang harus dipahami mungkin memang tidak selamanya niatan baik kita dapat diterima dengan baik pula, paling tidak, kita sufah menjalankan tugas kita, yaitu mengingatkan.
It's their call to decide, whether it's important for them, or not.
Sometimes they don't notice the things we do for them until we stop doing it.
Be grateful.
Best,
Wira
Tuesday, January 19, 2016
Manner.
Manner.
Sopan santun.
Banyak cara kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang punya sopan santun.
Gw, gw orangnya perfeksionis, I don't know whether it is curse or blessing. I always look into the details, the details that attracts me. Termasuk masalah manner, menghormati dan menghargai orang lain, caranya bisa bermacam-macam bagi semua orang, tapi buat gw, menghormati dan menghargai orang lain itu mulai dari hal terkecil.
Contoh? Nama, nama itu pemberian orang tua kan? yang menjadi label kita seumur hidup kan? Gw terbiasa kalo lagi chat di semua socmed mengetik nama orang dengan proper, yakni diawali dengan huruf besar, ya, Wira, bukan wira. Buat gw, itu cara termudah untuk menghormati dan/atau menghargai orang lain, mulai dari yang terkecil.
Btw, gw termasuk orang yang daya ingatnya kurang, terlebih kalo lagi kenalan sama orang, tepat setelah shakehand, saat itulah gw lupa nama orang tersebut, hahaha, pathetic loser. Sori, ini distraksi banget dari tema kita, manner. Hahaha.
Next tentang manner? Manner di meja makan, I'm not talking about table manner, terlalu rumit. Yang simpel-simpel aja lah, penggunaan handphone di meja makan. Zaman udah semakin maju, teknologi pun demikian, terbukti, penggunaan smartphone sekarang udah jadi hal yang lumrah, semua kalangan pasti familiar sama yang namanya smartphone. Sedihnya, penggunaan smartphone seakan jadi pembenaran bagi kita untuk menjadi antisosial, bahkan sampai di meja makan. Kalau tadi gw ngebahas tentang menghormati dan menghargai orang lain, sekarang gw ngebahas cara menghormati dan menghargai makanan. Ya, makanan.
Buat gw, menghormati dan menghargai makanan caranya simpel, dengan ga mainan handphone pada saat makan. Manner. Disaat kita hidup serba berkecukupan, makan bisa 3x sehari, ada saudara kita yang kurang mampu, bahkan makan 1x sehari aja mereka udah bersyukur. Gw pernah liat cara mereka makan, begitu mereka menghargai makanan dengan tidak melakukan aktivitas lain selain makan itu sendiri, buat gw, itu cara mereka menghormati, menghargai dan mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Lah kita? udah hidup serba berkecukupan, makan 3x sehari, makan masih sambil mainan handphone? Manner.
Best,
Wira
-@KB23-
Sopan santun.
Banyak cara kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang punya sopan santun.
Gw, gw orangnya perfeksionis, I don't know whether it is curse or blessing. I always look into the details, the details that attracts me. Termasuk masalah manner, menghormati dan menghargai orang lain, caranya bisa bermacam-macam bagi semua orang, tapi buat gw, menghormati dan menghargai orang lain itu mulai dari hal terkecil.
Contoh? Nama, nama itu pemberian orang tua kan? yang menjadi label kita seumur hidup kan? Gw terbiasa kalo lagi chat di semua socmed mengetik nama orang dengan proper, yakni diawali dengan huruf besar, ya, Wira, bukan wira. Buat gw, itu cara termudah untuk menghormati dan/atau menghargai orang lain, mulai dari yang terkecil.
Btw, gw termasuk orang yang daya ingatnya kurang, terlebih kalo lagi kenalan sama orang, tepat setelah shakehand, saat itulah gw lupa nama orang tersebut, hahaha, pathetic loser. Sori, ini distraksi banget dari tema kita, manner. Hahaha.
Next tentang manner? Manner di meja makan, I'm not talking about table manner, terlalu rumit. Yang simpel-simpel aja lah, penggunaan handphone di meja makan. Zaman udah semakin maju, teknologi pun demikian, terbukti, penggunaan smartphone sekarang udah jadi hal yang lumrah, semua kalangan pasti familiar sama yang namanya smartphone. Sedihnya, penggunaan smartphone seakan jadi pembenaran bagi kita untuk menjadi antisosial, bahkan sampai di meja makan. Kalau tadi gw ngebahas tentang menghormati dan menghargai orang lain, sekarang gw ngebahas cara menghormati dan menghargai makanan. Ya, makanan.
Buat gw, menghormati dan menghargai makanan caranya simpel, dengan ga mainan handphone pada saat makan. Manner. Disaat kita hidup serba berkecukupan, makan bisa 3x sehari, ada saudara kita yang kurang mampu, bahkan makan 1x sehari aja mereka udah bersyukur. Gw pernah liat cara mereka makan, begitu mereka menghargai makanan dengan tidak melakukan aktivitas lain selain makan itu sendiri, buat gw, itu cara mereka menghormati, menghargai dan mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Lah kita? udah hidup serba berkecukupan, makan 3x sehari, makan masih sambil mainan handphone? Manner.
Best,
Wira
-@KB23-
Thursday, January 14, 2016
I'm Not Good at Goodbye
Semua orang ga suka yang namanya perpisahan. So do I.
I really, really hate goodbye. Even worse, I'm not good at goodbye.
Itu sebabnya, gw lebih prefer ada di posisi yang ditinggalkan daripada yang meninggalkan. Pasif daripada aktif. Dan itu berlaku dari hal yang terkecil, contoh, kalau sekeluarga lg nganter gw ke pool travel pas gw balik ke jakarta, gw selalu bilang sm bokap gw "udah, papa pulang duluan aja, jangan nunggu travel wira berangkat".
Contoh lain yang sepele, kalo gw nebeng sm temen, begitu gw diturunkan, gw selalu punya kebiasaan nunggu mobil/motor mereka pergi duluan, baru gw melanjutkan perjalanan/masuk ke dalam rumah. hahaha, banyak hal-hal kecil yang menurut orang kebanyakan adalah hal yang sepele, matters to me.
Kalo untuk perpisahan yang model sepele di atas aja gw anggap serius, apalagi perpisahan yang menurut kalian serius. I do treat every goodbye as a serious matters, no matter what.
I'm not good at goodbye.
I hate goodbye.
Best,
Wira
-from KB23-
P.S.: Today is the day of Sarinah Bombing, terkutuk kalian manusia pengecut yang tidak bertanggungjawab, neraka jahanam untuk kalian!! #we'renotafraid
I really, really hate goodbye. Even worse, I'm not good at goodbye.
Itu sebabnya, gw lebih prefer ada di posisi yang ditinggalkan daripada yang meninggalkan. Pasif daripada aktif. Dan itu berlaku dari hal yang terkecil, contoh, kalau sekeluarga lg nganter gw ke pool travel pas gw balik ke jakarta, gw selalu bilang sm bokap gw "udah, papa pulang duluan aja, jangan nunggu travel wira berangkat".
Contoh lain yang sepele, kalo gw nebeng sm temen, begitu gw diturunkan, gw selalu punya kebiasaan nunggu mobil/motor mereka pergi duluan, baru gw melanjutkan perjalanan/masuk ke dalam rumah. hahaha, banyak hal-hal kecil yang menurut orang kebanyakan adalah hal yang sepele, matters to me.
Kalo untuk perpisahan yang model sepele di atas aja gw anggap serius, apalagi perpisahan yang menurut kalian serius. I do treat every goodbye as a serious matters, no matter what.
I'm not good at goodbye.
I hate goodbye.
Best,
Wira
-from KB23-
P.S.: Today is the day of Sarinah Bombing, terkutuk kalian manusia pengecut yang tidak bertanggungjawab, neraka jahanam untuk kalian!! #we'renotafraid
Subscribe to:
Posts (Atom)